Serba Serbi Merdeka di Kota Pematangsiantar

1146

Di banyak daerah, perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus jamak dirayakan dengan beragam lomba. Perlombaan “17 Agustusan” tersebut di antaranya tarik tambang, panjat pinang, makan kerupuk, dan balap karung.

Bukan sekadar lomba, tapi panitia penyelenggara biasanya juga menyiapkan hadiah untuk para pemenangnya. Lelaki, perempuan, dan anak-anak ikut berpartisipasi.

Namun, meski dilakukan hampir setiap tahun, tak banyak masyarakat Indonesia sadar asal mula tradisi perayaan 17 Agustus tersebut. Padahal, beberapa jenis perlombaan sebenarnya punya sejarah dan filosofi tersendiri. Dari mana awal mulanya?

Hingga kini tidak diketahui pasti siapa tokoh pelopor tradisi perlombaan untuk menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia. Yang pasti, perlombaan “17 Agustusan” mulai jamak dilakukan sekitar tahun 1950-an.

Lomba Balap Karung

Peperangan mempertahankan kemerdekaan kala itu mulai surut. Ibu kota negara yang sempat dipindahkan ke Yogyakarta kembali ke Jakarta.

Masyarakat pun ingin merayakan kemerdekaan yang sangat sulit diraih dan dipertahankan itu. Beragam lomba spontan dilakukan, mulai dari panjat pinang, lomba makan kerupuk, tarik tambang, sampai balap karung.
“Tapi perlombaan itu merupakan comotan dari masa Belanda dan terutama zaman (penjajahan) Jepang yang ditambah dengan aneka lomba baru,” kata sejarawan J J Rizal saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (13/8/2016).

Panjat pinang misalnya, lanjut Rizal, sudah terlihat di gambar-gambar masa kolonial Belanda. Ulang tahun Djawa Baroe—tepat saat Jepang datang pada Maret 1942—juga dirayakan dengan lomba-lomba seperti tarik beban berat atau lomba kuda-kuda.

“Jadi lomba-lomba itu persambungan dari masa sebelum kemerdekaan yang diperkaya dan diberikan isi baru untuk mengenang momen sejarah baru,” tutur Rizal.

Dalam perjalanannya, perlombaan lalu diadakan untuk merayakan kemerdekaan Indonesia.

“Bukan untuk menghormati Ratu Belanda atau kedatangan Jepang lagi, tapi lahirnya Indonesia,” ujarnya.

Bahkan, presiden pertama Indonesia, Soekarno, kala itu sama antusiasnya dengan masyarakat. Ia mau menandatangani buku untuk dijadikan hadiah lomba.

Karena dilakukan beragam kalangan, sontak perlombaan untuk merayakan kemerdekaan kian masyhur ke seantero negeri. Lomba-lomba itu tetap hadir dan meriah sampai hari ini.

Filosofi

Lomba-lomba tersebut pun sebenarnya memiliki makna mendalam. Balap karung, misalnya, mengingatkan pada perihnya penjajahan, terutama saat zaman Jepang.

Pada masa pendudukan Jepang, penduduk Indonesia begitu miskin sampai-sampai tak mampu membeli kebutuhan sandang. Karung goni pun dipakai sebagai gantinya.
Lomba makan kerupuk sama pula. Tangan peserta lomba diikat sambil berusaha memakan kerupuk yang menggantung, menggambarkan kesulitan pangan pada masa penjajahan.

Nah, tarik tambang juga menyimpan filosofi tersendiri. Lomba ini bukan hanya adu kekuatan. Tanpa tim yang kompak, kemenangan sulit diraih. Tarik tambang mengajarkan tentang gotong royong, kebersamaan, dan solidaritas.

Tarik Tambang

Bagaimana dengan lomba panjat pinang? Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, lomba ini biasa dilakukan sejak masa pendudukan Belanda.

Dulu, panjat pinang digelar sebagai hiburan saat perayaan-perayaan penting orang Belanda di bumi Indonesia, pesta pernikahan, misalnya. Kala itu juga penduduk pribumi berlomba-lomba mendapatkan hadiah yang digantungkan di puncak pohon pinang.

Lestarikan

Di Hari Kemerdekaan Indonesia, banyak daerah, termasuk Jakarta masih mengadakan perlombaan sama. Namun, lahan kosong di Ibu Kota makin sulit ditemui sehingga lomba yang dilakukan kian terbatas.

Tak jarang, beberapa daerah tak jadi merayakan karena keterbatasan lahan. Padahal, perlombaan tersebut sudah jadi bagian tradisi dan “identitas” Indonesia.

“Negara lain malah sedang sibuk mencari permainan tradisional mereka. Kemarin saya ketemu orang Jerman yang sedang mencari kearifan lokal negaranya. Susah sekali,” kata Wakil Direktur PT Pembangunan Jaya Ancol, Agus Sudarno kepada Kompas.com di Ancol, Jumat (12/8/2016).

Tim 17an BAPPEDA

Beruntung, lanjutnya, Indonesia masih punya banyak kearifan lokal seperti perlombaan khas 17 Agustus. “Ini rasanya jangan sampai hilang ya,” tutur Agus.

Demi menjaga tradisi, Ancol turut mengadakan beragam lomba pada Hari Kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus untuk para pengunjung.

“Ancol sebagai tempat hiburan yang punya lahan cukup luas coba mewadahi kegiatan-kegiatan sosial yang merupakan tradisi kita,” ucap Agus.

Tahun ini pun, sebanyak 171 pohon pinang akan disediakan untuk 1.368 peserta. Lomba makan kerupuk kolosal, balap karung berpasangan, gebuk bantal di atas air, dan tarik tambang di air juga akan diselenggarakan.

“Harapannya aktivitas masyarakat seperti ini tidak hilang. Siapa tahu aktivitas ini akan muncul dan bisa jadi diadopsi sebagai olahraga modern,” lanjut Agus.

Selain acara bertema Kemerdekaan Indonesia, Ancol menyediakan aneka promo menarik pula. Pada Rabu, 17 Agustus 2016, khusus pengunjung yang datang menggunakan motor, Transjakarta, atau Commuter Line mendapat promo harga satu tiket berlaku untuk dua orang.

Nah, siap berpartisipasi dalam lomba-lomba pada 17 Agustus nanti? Merdeka!